gitar, elektronika, catur, religi dan matematika, politik, seni budaya, dan semua yang ada didunia ini
Rabu, 07 Oktober 2020
Saya Senang Nulis, Saya Jadi Blogger Sejak 2011
Minggu, 04 Oktober 2020
Sabtu, 03 Oktober 2020
Baik Dimata Manusia, Baik Disisi Alloh ?
Hal seperti ini dan pertanyaan seperti ini sebenarnya sudah saya pelajari dan saya perdalam sejak lama beberapa tahun yang lalu. Hanya saja baru kali ini saya berkesempatan menulisnya.
Lalu apa sebenarnya definisi ‘baik’ itu secara Hakiki?.
Seorang pencuri misalnya, dia juga dikatakan “baik” dalam habitatnya, kenapa? Ya karena, dengan sesamanya mereka juga saling berinteraksi, saling menolong, saling memberi dan saling melengkapi. Tapi dari sudut pandang religi itu adalah perbuatan dosa dan tercela.
Seorang
Kiyai/Ustadz/Ulama adalah manusia paling special, paling baik dan paling
menawan dimata manusia. Karena dengan kharisma dan ilmunya mampu bermanfaat dan berguna bagi orang banyak, tapi apakah itu
jaminan baik di sisi Alloh? Jawabannya tentu saja belum tentu.
Alloh memang memberikan
ilmu yang banyak baginya, setiap kegundahan manusia akan terjawab dan
tercerahkan olehnya, Dengan kharismanya manusia akan mudah percaya dan tadzim
kepadanya.
Alloh memberikan lidah
yang lentur dan luwes, sehingga setiap ilmu yang ada padanya akan mudah
tersampaikan kepada jama’ahnya, walaupun apa yang disampaikannya belum tentu
kebenarannya. Manusia pun akan manggut-manggut, karena takut dan takjub, mereka
tidak pernah peduli bahwa apa yang disampaikannya itu merupakan “ceramah” atau ‘ghibah’.
‘Yang terpenting saya
ingin mendapatkan berkah dan karomah ‘ J.
Yang pada intinya, lidahnya itu bisa memasukkannya ke syurga atau bahkan menyeretnya ke neraka Jahannam. Wallahu a’lam.
Seseorang yang pernah pernah ke Tanah Suci, baik itu Haji
atau Umroh… apakah itu akan menjadi jaminan baginya syurga’? tentu saja
jawabannya adalah tidak.
Saya setuju dengan
anggapan bahwa, seseorang yang hajinya ‘mabrur maka akan kelihatan dari
perilaku sosialnya, dia akan semakin rajin beribadah, senang memberi makanan ke
sesamanya, tidak pernah berkata yang tercela dsb, intinya adalah semakin baik
kepada sesamanya, dan perilaku yang kelihatan adalah pasti semua baik dimata
manusia. Tapi apakah itu arti dari haji yang mabrur, tentu tidak. Wallahu a’lam.
Semua itu bisa direkayasa
:D,
Karena takut dan risih dikatakan
‘mabur’ akhirnya memaksakan berbuat baik, entah ini itu ini itu blab la blaa
dsb,
Lalu sebenarnya berbuat
baik itu yang bagaimana, ya mengalir aja…. Intinya adalah apa kata hati saja,
jika ingin bebuat baik ya lakukan saja, jangan pikirkan apa kata manusia.
Tapi memang ujian itu ada 2 macam, nikmat kesenangan dan nikmat kesusahan.
Seorang Hafidz Al-Qur’an adalah memang orang yang hebat,
pilihan Alloh, mempunyai hafalan yang banyak dan kuat. Tapi apakah itu jaminan
bahwa dia akan masyuk syurga tanpa hisab, dan syurga paling tinggi?...., tentu
jawabannya adalah tidak.
Bahkan, Qur’an bisa
menyeretnya ke jahannam, karena dia hafal tapi menyelisihinya atau tidak
mengamalkannya. (Mengamalkannya? = plis deh jangan terlalu picik dan lugu
mengartikannya, jangan di telan mentah2, lha wong membaca aja pahalanya luar
biasa, kalau bisa ya diamalkan, kalau tidak ya semampunya)
Hal ini lah yang paling saya takuti, misalkan saya hebat dalam hal sunnah tapi payah dalam hal fardhu, tapi apakah itu menjadi penghalang kita dalam hal beribadah dan beramal selain fardhu? Tentu tidak. Itu adalah pikiran orang bodoh, ingatlah, amalan sunnah dapat meyempurnakan dan mengganti amalan wajib, bahkan amalan yang kelihatannya remeh dimata manusia tapi besar dan tinggi di sisi Alloh, apa saja. Bahkan amalan yang kelihatannya remeh dan kecil yang kita lakukan, justru itu bisa jadi pertimbangan Alloh memasukkan kita ke syurganya. Karena Alloh mempunyai hak prerogratif.
Kalau begitu, saya tidak akan menghafal Qur’an, tidak akan pergi Haji, tidak akan menjadi orang baik, tidak akan beramal baik, karena belum tentu di terima. Itu juga pikiran yang kurang tepat… saya akan menjadi orang biasa aja, yang penting tidak berbuat buruk …. Aduhhh pliss dehhh
Sebuah pisau,
itu tergantung amaliahnya…
jika dia digunakan untuk merajang, mengiris dan memotong sayuran kemudian
dibagikan kepada orang yang membutuhkan, itu juga merupakan amalan yang
pahalanya luar biasa jika dilakukan ikhlas karena Alloh. Jika diberikan kepada
orang yang berpuasa, maka pahalanya seolah-olah ‘sama’ dengan orang yang sedang
berpuasa tersebut.
Ingat loh, kita
bersedekah, atau memberikan makanan kemudian setelah itu agar kita bebas
mencelanya, apa ada yang kayak gitu, ya ada.
Sebuah pisau,
Akan menjadi haram jika
digunakan untuk sesuatu yang dilarang oleh agama, semisal menusuk, membunuh dan
sebagainya.
DAN juga untuk benda-benda yang lain adalah tergantung amaliahnya, itu adalah perkara subhat
LIDAH mu, itu bisa lebih ‘HARAM’ dari pisau, music, hp,
tv, minuman keras, judi, membunuh dan sebgainya, kalau hanya tiap hari di isi
dengan SYUUDZON, GHIBAH, FITNAH, NAMIMAH, dan sejenisnya.
Isilah lidahmu dengan
kalimat TOYYIBAH,
Sampai ketemu di tulisan ku yang berikutnya, yang mencerahkan. HEND